Beranda Artikel Guru Melestarikan lingkungan, Merupakan ajaran yang sangat purba

Melestarikan lingkungan, Merupakan ajaran yang sangat purba

235
0
Ach. Sihabul Fathon, S.Pd (Guru Pendidikan Lingkungan Hidup)

Kita akan berbicara sebuah kenangan, sebuah nostalgia, sebuah nilai hikmah dan mungkin sebuah cerita yang nantinya akan menggugah hati nurani kita untuk selalu menjaga kelestarian alam. Nah, Kita mulai perbincangan kita dari sebuah kisah seorang Nabi yang telah di usir dari syurga karena tindakannya yang ceroboh terhadap alam.

Namanya adalah Adam, makhluk pertama yang di ciptakan oleh Allah dan di tempatkan di syurga, syurga yang syarat akan nilai estetika(keindahan) dan kemegahan. Adam di ciptakan oleh Allah setelah Allah menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut dan tumbuh – tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya, menciptakan malaikat-malaikatnya. Sehingga untuk menciptakan sejenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi, dan nantinya akan memelihara dan menikmati tumbuh-tumbuhannya,mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun, waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya, sekelumit sebuah proses lahirnya seorang Adam.

Ach. Sihabul Fathon, S.Pd (Guru Pendidikan Lingkungan Hidup)

Namun malaikat mempunyai rasa kekhawatiran terhadap adanya makhluk baru ciptaan Allah yang bernama Adam, ke khawatiran tersebut di ungkapkan oleh para malaikat kepada Allah, mereka khawatir apabila kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu, akan muncul sebuah keserahkahan atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa mereka sadari. Sehingga berkata mereka kepada Allah SWT : “Wahai Tuhan kami! Buat apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami,padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya, sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, niscaya akan bertengkar satu dengan lain, akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat diatasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu.”

Namun Allah berfirman, dan menghilangkan rasa  ke khawatiran para malaikat itu:

“Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepada nya, bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah, karena Allah SWT melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya.”

Kemudian di ciptakanlah Adam oleh Allah SWT dari segumpal tanah liat, kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya di tiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.

Keberadaan seorang Adam, menjadikan Iblis membangkang dan tidak mau menuruti perintah Allah untuk bersujud kepada Adam sebagai bentuk penghormataan kepada seorang maklhluk yang akan di berikan amanah oleh Allah untuk menguasai bumi. Tidak maunya iblis memberikan penghormatan kepada Adam, karena iblis merasa dirinya paling mulia, paling sempurna sebab dirinya di ciptakan oleh Allah dari sebuah unsur api, sedangkan Adam hanya di ciptakan dari segumpal tanah dan lumpur.

Tuhanpun bertanya kepada Iblis: “Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku ?”

Iblis menjawab:”Aku adalah lebih mulia dan lebih unggul dari dia.Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur.”

Dengan kecongkakannya, Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmah-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi,maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta, kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya: “Cobalah sebutkan bagi-Ku nama benda-benda itu,jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam.”

Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka.Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata: “Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami.Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.”

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam,berfirmanlah Allah kepada mereka: “Bukankah Aku telah katakan padamu bahwa Aku mengetahui rahsia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”

Sampai pada penghujung sebuah kisah, dan di tempatkanlah Adam di syurga, sebagai pasangannya, Allah menciptakan seorang Hawa. Dan Allahpun berpesan kepada Adam, “Tinggallah engkau bersama isterimu di syurga,rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah didalamnya,rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu.Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar,dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya.Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zalim.Ketahuilah bahawa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu,ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari syurga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini.”

Namun, sebagai bentuk janji iblis yang akan selalu menggoda manusia, maka iblis melancarkan aksinya dengan menggoda adam dan hawa untuk memkan Buah Khuldi, buah yang di larang oleh Allah untuk dimakan. Sehingga Allah berfirman,: “Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahawa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata.”

Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sadarlah ia bahawa mereka telah terlanggar perintah Allah dan bahawa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar. Seraya menyesal berkatalah mereka: “Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis.Ampunilah dosa kami karena nescaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami.”

Dari sebuah kisah di atas, seyogyanya kita bisa memetik sebuah hikmah dan khasanah nilai-nilai luhur kehidupan di muka bumi ini, kisah nabi Adam mengajarkan bagi kita untuk selalu menjaga alam, melestarikan dan menjaga nilai keseimbangan antara Alam dan manusia sebagai penguasannya. Hal ini di pertegas di sebuah Doktrin legend of te fall yang menyatakan bahwa “anjuran melestarikan lingkungan merupakan ajaran yang sangat purba, dan fundamental dari agama ini dapat kita cermati dari kasus kejatuhan Adam ke muka bumi ini konon, dijelaskan bahwa Adam tersingkir dari tanah surga yang penuh dengan estitka dan kedamaian, rindang, subur ke muka bumi yang gersang karena tidak mengindahkan ajaran tuhan, yakni kearifan ekologis”.

Adam dan Hawa (Eva) memakan dan merusak buah dan pohon khuldi (QS.2:35-39). Dari ini, dapatlah dipahami bahwa menjaga lingkungan hidup merupakan doktrin agama yang purba.

Doktrin tersebut telah menempatkan kesadaran dan pemeliharan ekologi sebagai hal utama setelah teologi. Namun, seiring dengan perkembangan manusia, ajaran tersebut semakin terlupakan dan tersingkir ditengah kehidupan kita. Pengrusakan lingkungan, pembakaran hutan, penebangan pohon secara liar dan eskploitasi kekayaan alam secara besar-besaran adalah dianggap abash.

Itu semua terkadang dilakukan dengan dalih bahwa alam semesta telah diciptakan hanya semata-mata hanya demi kepentingan manusia. Sementara, manusia yang mendapat mandat sebagai “khalifah di muka bumi (khalifah fiy al-ardh, QS; 2: 30) seolah-olah di perkenankan melakukan eksploitasi dan pemerkosaan terhadap alam semesta. Padahal, konsep khalifah (aktif memakmurkan bumi) dalam islam tidak pernah otonom. Disamping sebagai khalifah, manusia juga menerima predikat sebagai hamba Allah (Abdullah, pasif menerima aturan Allah) yang seyogyanya melestarikan dan memafestasikan ajaran dan sifat-sifat Tuhan dimuka bumi ini.

Karena itulah, pengrusakan terhadap alam semesta sama sekali tidak mendapat landasan teologisnya. Memelihara lingukungan justru merupakan panggilan teologis yang sangat mulia. Kita sudah semestinya kita memikirkan ulang terhadap kerusakan lingkungan yang sedemikian parah ini dan melakukan langka-langka strategis guna menyelamatkan kehidupan manusia.

Untuk langkah tersebut, usaha menapak tilas pola hiddp orang-orang bijak dan mistikus islam, disana akan dijumpai begitu kecintaan mereka terhadap alam lingkungannya sungguh luar biasa. Lihatlah, Sa’di, penyari Persia yang bersenandung: “Aku gembira dengan kosmos/aku mencintai seluruh dunia/karena dunia milikNya”. Penyair lainnya, seperti Yusuf Emre, dengen puitis menyimbolisasikan fakta ekologi dengan realitas alam surgawi, “Semua sungai yang ada di sorga/mengalir dengan kata Allah, Allah/Dan setiap burung Bulbul bercumbu dan menyanyikan nada: Allah, Allah”.

Wassalam..!!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here